Dec
24
2010

Konversi Sistem di Perusahaan

Perancangan sistem informasi merupakan pengembangan sistem informasi baru dari sistem informasi lama yang, dimana masalah-masalah yang terjadi pada sistem lama diharapkan dapat diatasi dengan pembuatan sistem informasi yang baru. Siklus hidup pengembangan sistem informasi secara konseptual adalah sebagai berikut :

  1. Analisis Sistem : menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
  2. Perancangan Sistem : merancang output, input, struktur file, program, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem informasi
  3. Pembangunan dan Testing Sistem: membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak
  4. Implementasi Sistem : beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan pelatihan dan panduan seperlunya.
  5. Operasi dan Perawatan : mendukung operasi sistem informasi dan melakukan perubahan atau tambahan fasilitas.
  6. Evaluasi Sistem : mengevaluasi sejauih mana sistem telah dibangun dan seberapa bagus sistem telah dioperasikan.

Dengan pembuatan dan perancangan sistem informasi baru dengan maksud menghilangkan atau mengurangi masalah-masalah yang terjadi pada sistem informasi lama, biasanya yang terjadi kebalikannya, yaitu timbul kesalahan fatal setelah melakukan konversi sistem informasi lama ke sistem informasi baru. Penyebabnya adalah sebagai berikut :

–           Sumber daya manusia yang ada belum siap dalam mengaplikasikan sistem informasi yang baru.

–           Kurangnya perhatian pimpinan dalam mengaplikasikan sistem informasi baru, sehingga penjelasan mengenai pemakaian sistem informasi baru kurang.

–           Prosedur dalam pengaplikasian sistem informasi baru sulit dipahami dan dimengerti.

–           Tingkat penguasaan teknologi informasi perusahaan masih rendah.

Dalam melakukan konversi sistem informasi dilakukan berdasarkan empat metode, yaitu :

  1. Konversi Langsung (Direct Conversion)

Mengimplementasikan sistem baru dan memutuskan jembatan sistem lama. Apabila konversi telah dilakukan maka tidak ada cara untuk kembali ke sistem lama atau pemutusan sistem lama yang disebut cold turkey. Modifikasi terhadap konversi langsyung merupakan konversi uji coba. Pendekatan atau cara konversi ini akan bermanfaat apabila :

–          Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain

–          Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai

–          Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya

–          Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti

Kelebihannya : Biaya konversi relative tidak mahal

Kelemahannya : Mempunyai resiko kegagalan cukup tinggi

2.       Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Sistem lama dan sistem baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu. Pada konversi ini, output dari masing-masing sistem tersebut dibandingkan, dan perbedaan direkonsiliasi.

Kelebihannya : Pendekatan ini memberikan derajat proteksi ynag tinggi dari kegagalan sistem yang baru.

Kelemahannya : Biaya besar untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

3.       Konversi Bertahap (Phase-in Convertion)

Mengsekmentasi sistem. Sistem baru diimplementasikan beberapa kali yang secara perlahan mengganti sistem yang lama. Konversi ini menghindarkan dari resiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan member waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasililasi perubahan.

Kelebihannya :  Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi dan sumber-sumber pemrosesan data bisa diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang cukup luas.

Kelemahannya :   Biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi karena orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Contoh dari metode konversi bertahap :

Aktivitas pengumpulan data baru diimplementasikan dan mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Interface tersebut memungkinkan sistem lama beroperasi dengan data input baru. Kemudian aktivitas-aktivitas akses database baru, penyimpanan, dan pemanggilan diimplementasikan. Sekali, mekanisme interface dengan sistem lama dikembangkan. Segmen lain dari sistem baru tersebut di­instal sampai keseluruhan sistem diimplementasikan.

4.       Konversi Pilot (Pilot Convertion)

Mensegmentasi organinisasi yaitu hanya sebagian dari organisasi mencoba mengmbangkan sistem baru. Sebelum sistem baru diimplementasikan ke seluruh organisasi, sistem pilot ini harus membuktikan di tempat pengujian tersebut.

Kelebihannya :    Konversi ini sedikit berisiko dibandingkan metode konversi langsung, dan lebih murah dibanding metode paralel. Segala kesalahan bisa dilokalisir dan dikoreksi sebelum implementasi lebih jauh dilakukan.

Kelemahannya : Membutuhkan area (sebagian) dari operasi untuk uji coba.

Contoh dari metode konversi pilot :

Penerapan sistem baru diimplementasikan di salah satu kantor kantor cabang sebagai tempat pengujian sistem baru tersebut. Apabila sistem baru tersebut sukses dan cocok untuk diimplementasikan, maka kemudian sistem baru tersebut siap diimplementasikan ke seluruh kantor.

Beberapa asumsi cara untuk menghindari agar kesalahan tidak terjadi, yaitu :

  1. Penerapan software baru sebaiknya berjalan paralel dengan sistem manual. Jadi sistem manual masih tetap dipakai, sampai software baru teruji kevalidannya.
  2. Mencatat bug-bug yang muncul dan memberitahukan kepada pihak pengembang. Walaupun di masa pengembangan software sudah dilakukan pengetesan terhadap software tersebut, sampai benar-benar siap dilempar ke pasaran, tapi dalam kenyatannya kadang-kadang masih dijumpai bug-bug yang tidak terduga.
  3. Pelatihan bagi para operator.
  4. Kebijakan pimpinan yang mewajibkan semua staff memakai software tersebut.
  5. Kebijakan pimpinan dalam mendukung pengembangan sistem informasi berbasis komputer di perusahaan, dalam jangka pendek dan jangka panjang. Misalnya membuat rencana pencapaian selama 3, 5, 10 tahun ke depan dan menetapkan sarana dan prasarana pendukungnya.
  6. Pembagian kerja di staf IT. Ada staf IT yang khusus bertugas menangani masalah-masalah yang ada.
  7. Dukungan dari semua staf yang ada terhadap penerapan software baru ini, walaupun manfaatnya mungkin belum begitu terasa bagi para staf.

Daftar Pustaka :

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBsQFjAA&url=http%3A%2F%2Fapr1l-si.comuf.com%2FSI.pdf&ei=1IQPTenQD47JrAeF-IDBCw&usg=AFQjCNFXFCOD1jSA17HjZWat66HBX6RdmA&sig2=l9HJDD28s1BYw-N1gOY6UQ. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://riyanti.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13890/Konversi+Sistem(9).pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://hwidyastuti.blog.friendster.com/2005/06/mencegah-kegagalan-penerapan-sistem-informasi/. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

FILE BENTUK PDF :  Konversi Sistem

Dec
24
2010

Keuntungan dan kelemahan dari pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan dengan insourcing.

Menurut definisi Maurice Greaver, Outsourcing dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama.
  • Kelebihan :
  1. Perusahaan dapat mengonsentrasikan diri pada bisnis yang ditangani.Masalah mengenai hardware, sofware, dan maintenance sistem merupakan tanggung jawab pihak vendor.
  2. Lebih praktis serta waktu pengembangan sistem informasi relatif lebih cepat, efektif, dan efisisen karena dikerjakan oleh orang yang profesional di bidangnya.
  3. Penghematan waktu proses dapat diperoleh karena beberapa outsourcerdapat dipilih untuk bekerja bersama-sama menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
  4. Dapat membeli partner/provider sesuai anggaran dan kebutuhan. Memudahkan akses pada pasar global jika menggunakan vendor yang mempunyai reputasi baik.
  5. Resiko ditanggung oleh pihak ketiga. Resiko kegagalan yang tinggi dan biaya teknologi yang semakin meningkat, akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyerahkan pengembangan sistem informasi kepadaoutsourcer agar tidak mengeluarkan investasi tambahan.
  6. Biaya pengembangan sistem informasi dapat disesuaikan dengan anggaran dan kebutuhan perusahaan. Mahal atau murahnya biaya pengembangan sistem informasi  tergantung jenis program yang dibeli.
  7. Mengurangi resiko penghamburan investasi jika penggunaan sumber daya sistem informasi belum optimal. Jika hal ini terjadi maka perusahaan hanya menggunakan sumber daya sistem yang optimal pada saat-saat tertentu saja, sehingga sumber daya sistem informasi menjadi tidak dimanfaatkan pada waktu yang lainnya.
  8. Dapat digunakan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tak perlu ada aset untuk teknologi informasi.
  9. Memfasilitasi downsizing sehingga perusahaan tak perlu memikirkan pengurangan pegawai.
  • Kelemahan :
  1. Terdapat kekhawatiran tentang keamanan sistem informasi karena adanya peluang penyalahgunaan sistem informasi oleh vendor, misalnya pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan.
  2. Ada peluang sistem informasi yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan dikarenakan vendor tidak memahami kebutuhan sistem dalam perusahaan tersebut.
  3. Transfer knowledge terbatas karena pengembangan sistem informasi sepenuhnya dilakukan oleh vendor.
  4. Relatif sulit melakukan perbaikan dan pengembangan sistem informasi karena pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh vendor, sedangkan perusahaan atau organisasi umumnya hanya terlibat sampai rancangan kebutuhan sistem.
  5. Dapat terjadi ketergantungan kepada konsultan.
  6. Manajemen perusahaan membutuhkan proses pembelajaran yang cukup lama dan perusahaan harus membayar lisensi program yang dibeli sehingga ada konsekuensi biaya tambahan yang dibayarkan.
  7. Resiko tidak kembalinya investasi yang telah dikeluarkan apabila terjadi ketidakcocokan sistem informasi yang dikembangkan.
  8. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan. Mungkin saja pihakoutsourcer tidak fokus dalam memberikan layanan karena pada saat yang bersamaan harus mengembangkan sistem informasi klien lainnya.
  9. Perusahaan akan kehilangan kendali terhadap aplikasi yang di-outsource-kan. Jika aplikasinya adalah aplikasi kritikal yang harus segera ditangani jika terjadi gangguan, perusahaan akan menanggung resiko keterlambatan penanganan jika aplikasi ini di-outsource-kan karena kendali ada padaoutsourcer yang harus dihubungi terlebih dahulu.

10.  Jika kekuatan menawar ada di outsourcer, perusahaan akan kehilangan banyak kendali dalam memutuskan sesuatu apalagi jika terjadi konflik diantaranya.

Alasan sebuah perusahaan melakukan outsourcing terbagi menjadi dua, yaitu alasan strategis dan alasan utama. Alasan stategis sebuah perusahaan melakukan outsourcing adalah meningkatkan fokus bisnis (dengan outsourcing maka perusahaan dapat lebih focus pada bisnis utamanya dan membiarkan sebagaian operasionalnnya dikerjakan oleh pihak lain), membagi resiko operasional (dengan outsourcing maka resiko operasional perusahaan dapat dibagi kepada pihak lain), dan sumber daya perusahaan yang ada dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lain. Sedangkan alasan utama sebuah perusahaan melakukan outsourcing adalah mengurangi biaya (dengan outsourcing maka biaya yang sebelumnya digunakan untuk investasi infrastruktur teknologi diubah menjadi biaya operasional), mengubah asset yang tidak diperlukan, perusahaan tidak memiliki sumberdaya yang berkompeten, dan kontrol yang lebih baik (dengan outsourcing maka perusahaan dapat lebih baik mengontrol operasional perusahaannya sehingga hasil yang diperoleh akan membuat bisnis perusahaan menjadi lebih lancar, efektif, dan efisien).

Insourcing adalah metode pengembangan sistem informasi yang hanya melibatkan sumber daya di dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan. Sistem informasi mengenai operasi sistem pada pihak manajemen untuk memberikan pengarahan dan pemeliharaan sistem dalam hal ini pengendalian ketika sistem bertukar input dan output dengan lingkungannya.

  • Kelebihan :
  1. Umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan.
  2. Biaya pengembangannya elative lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  3. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  4. Sistem informasi yang dibangun sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.
  5. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  6. Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  8. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  • Kelemahan :
  1. Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  3. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).
  4. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmersehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  5. Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  6. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan distem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan (ditanggung sendiri).

Daftar Pustaka :

http://ayusuryadi.multiply.com/reviews/item/12. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

FILE BENTUK PDF :  OUTSOURCING PERUSAHAAN

Dec
24
2010

Apa yang membedakan antara pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi?

Software (perangkat lunak) adalah organisasi dari sekumpulan perintah dan fungsi yang dienkapsulasi dalam bentuk yang dapat dieksekusi oleh komputer. Munculnya pengembangan software (software engineering) terjadi ketika adanya krisis software di era tahun 1960 -an. Krisis tersebut akibat dari lahirnya komputer generasi ke III yang ditandai denganpenggunaan IC (Integrated Circuit).

Beberapa pengertian dari pengembangan software (software engineering) adalah suatu disiplin ilmu yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, mulai dari tahap awal requirement capturing (analisa kebutuhan pengguna), specification (menentukan spesifikasi dari kebutuhan pengguna), design, coding, testing sampai pemeliharaan sistem setelah digunakan. Sedangkan menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) pada proyek SWEBOK (Software Engineering Body of Knowledge) mengartikan pengembangan software (software engineering) sebagai aplikasi sistematik, disiplin, pendekatan kuantitatif untuk pengembangan, operasi dan pemeliharaan dari software atau dapat disimpulkan sebagai teknik aplikasi untuk perangkat lunak yang intinya software engineering berkaitan dengan pembangunan produk program. Software engineering  terdiri dari 3 elemen kunci, yaitu :

–            Metode

Metode software engineering memberikan teknik-teknik bagaimana membentuk software.

Metode ini terdiri dari serangkaian tugas :

  • Perencanaan dan estimasi proyek
  • Analisis kebutuhan sistem dan software
  • Desain struktur data
  • Arsitektur program dan prosedur algoritma
  • Coding
  • Testing dan pemeliharaan

–            Peralatan (tools)

Peralatan software engineering memberikan dukungan atau semiautomasi untuk metode. Contohnya :

  • CASE (Case Aided Software Engineering), yaitu suatu software yang menggabungkan software, hardware, dan database software engineering untuk menghasilkan suatu lingkungan software engineering.
  • Database Software Engineering, adalah sebuah struktur data yang berisi informasi penting tentang analisis, desain, kode dan testing.11
  • Analogi dengan CASE pada hardware adalah : CAD, CAM, CAE

–            Prosedur

Prosedur pengembangan software terdiri dari :

  • Urut-urutan di mana metode tersebut diter apkan
  • Dokumen
  • Laporan-laporan
  • Formulir-formulir yang diperlukan
  • Mengontrol kualitas software
  • Mengkoordinasi perubahan yang terjadi pada software

Sistem informasi adalah suatu sistem dalam organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Pengertian lain dari sistem informasi adalah suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang bermanfaat bagi penggunanya. Sistem  informasi dalam suatu  organisasi dapat dikatakan  sebagai  suatu  sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi  yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya.

Perbedaan antara pengembangan software dan pengembangan sistem informasi adalah pengembangan software mampu mengelola aktifitas pengembangan software berskala besar dalam tiap tahapannya (software development life cycle), selain itu dalam pengembangan software lebih bersifat aplikasi untuk pengguna akhir dan sangat berkaitan dengan pengguna operasional dan pencapaian keunggulan kompetitif perusahaan. Berkaitan dengan keunggulan kompetitif perusahaan, meliputi keamanan, akses informasi, strategi bisnis dan sarana yang penting bagi semua fungsi bisnis, proses bisnis dalam suatu organisasi serta meningkatkan daya saing perusahaan. Sedangkan pengembangan sistem informasi merupakan kemampuan untuk menganalisa kebutuhan (requirement) dan proses bisnis (business process), serta mendesain sistem berdasarkan tujuan dari organisasi dan dalam pengembangan sistem informasi, organisasi harus mampu melakukan perubahan sistem informasi yang mendasar baik terkait dengan perubahan, kebijakan, struktur organisasi, perubahan lingkungan, perubahan hubungan antara user dengan sistem informasi, proses dan peralatan. Selain itu, dalam pengembangan sistem informasi perlu diperhatikan tingkat resiko yang mungkin terjadi dalam pengembangan system informasi tersebut, bisa jadi akan memerlukan sumber daya lebih banyak dari yang direncanakan.

Daftar Pustaka :

http://dosen.binadarma.ac.id/deroe/ftodwl/RPL%20Bidar%201.doc.(Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://cahdangkal.blog.unsoed.ac.id/files/2009/06/software-engineering.pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://apr1l-si.comuf.com/SI.pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://ripperjohn.blogspot.com/2010/10/pandangan-tentang-perbedaan-ilmu.html. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

FILE BENTUK PDF :  Perbedaan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi

Dec
24
2010

Penyebab kegagalan dalam pengembangan maupun penerapan sistem informasi di suatu organisasi (dengan merujuk pada pendapat Rosemary Cafasaro)

Penerapan sistem informasi dalam setiap perusahaan berbeda-beda. Sehingga kesuksesan dan kegagalan yang dialami oleh setiap perusahaan berbeda-beda juga, hal ini tergantung dari permasalahan yang dihadapi oleh setiap perusahaan berbeda pula. Meski permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan sama, belum tentu sistem informasi yang diterapkan akan sama, dikarenakan budaya dan cara penanganan setiap perusahaan terhadap suatu permasalahan yang ada berbeda.

Kegiatan utama dalam sistem informasi terdiri dari 3 (tiga), yaitu :

  1. Menerima data sebagai masukan (input)
  2. Memproses data dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsure data, pemutakhiran perkiraan, dan lain-lain
  3. Memperoleh informasi sebagai keluaran (output)

Ketiga kegiatan tersebut dapat digunakan baik dalam sistem informasi yang dilakukan secara manual, elektromekanis maupun komputer.

Sistem  informasi  terdiri  dari  elemen­elemen  berupa komponen fisik yang terdiri dari :

  1. Orang

Orang yang dimaksud adalah operator komputer, analisis sistem, programmer, entry data, dan manajer sistem informasi.

  1. Prosedur

Prosedur  merupakan  elemen  fisik.  Hal  ini  di  sebabkan  karena  prosedur  disediakan  dalam bentuk  fisik  seperti  buku  panduan  dan  instruksi. Terdapat 3 (tiga) jenis prosedur yang dibutuhkan, yaitu instruksi untuk pemakaian, instruksi untuk penyiapan masukan, dan instruksi pengoperasian untuk karyawan pusat komputer.

  1. Perangkat keras

Perangkat keras bagi suatu sistem informasi yang terdiri atas komputer (pusat pengolah, unit masukan atau keluaran), peralatan penyiapan data, dan terminal masukan atau keluaran.

  1. Perangkat lunak

Perangkat lunak dapat dibagi dalam 3 jenis utama, yaitu :

–       Sistem perangkat lunak umum, seperti sistem pengoperasian dan sistem manajemen data yang memungkinkan pengoperasian sistem komputer.

–       Aplikasi perangkat lunak umum, seperti model analisis dan keputusan.

–       Alplikasi perangkat lunak yang terdiri atas program yang secara spesifik dibuat untuk setiap aplikasi.

  1. Basis data

File yang berisi program dan data dibuktikan dengan adanya media penyimpanan secara fisik, seperti hard disk, diskette, dan sebagainya.

  1. Jaringan komputer

Jaringan komputer adalah sebuah kumpulan komputer, printer, dan peralatan lainnya yang terhubung dalam satu kesatuan sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data.

  1. Komunikasi data

Komunikasi data adalah bagian dari telekomunikasi yang secara khusus dengan transmisi atau pemindahan data dan informasi diantara komputer-komputer dalam bentuk digital yang dikirimkan melalui media komunikasi data.

Sistem informasi di setiap organisasi dalam perusahaan memiliki kesuksesan dan kegagalan masing-masing. Faktor-faktor penentu yang menjadi kunci kesuksesan atau kegagalan dalam pengembangan dan implementasi sistem informasi dalam suatu perusahaan, secara umum adalah sebagi berikut :

  1. Faktor-faktor kesuksesan, yaitu :

–            Penyampaian penyebab kendala yang sedang dihadapi oleh perusahaan kepada pembuat sistem informasi (dalam hal ini adalah programmer) secara jelas (apa yang dibutuhkan dan diiinginkan oleh perusahaan dan apa yang diterima olah pembuat sistem informasi harus sama).

–            Adanya pelatihan sistem informasi kepada pengguna teknologi sistem informasi, baik sistem lama maupun sistem baru. Hal ini dilakukan agar teknologi sistem informasi yang ada dapat digunakan secara optimal (disesuaikan dengan penggunaan sistem informasi dan kemampuan pengguna).

–            Dilakukan pembaharuan terhadap sistem informasi lama menjadi sistem informasi baru. Sebagai antisipasi dari perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

–            Adanya dukungan dari atasan baik manajemen maupun pimpinan perusahaan demi keberhasilan proyek pembuatan teknologi sistem informasi. Karena dalam membuat suatu sistem informasi membutuhkan biaya yang banyak dan waktu yang lama.

–            Adanya pemeliharaan dan perawatan terhadap sistem informasi yang telah dibuat. Supaya kinerja dari sistem informasi selalu relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam meningkatkan mutu dan kualitas.

–            Adanya ukuran tingkat kesuksesan dari implementasi teknologi sistem informasi, misalnya teknologi sistem informasi tersebut penggunaannya relatif cukup tinggi (high levelsof system use), kepuasan pengguna terhadap sistem (users satisfaction with the systems), dan sikap yang menguntungkan para pengguna terhadap sistem informasi dan staff dari sistem informasi.

  1. Faktor-faktor kegagalan, yaitu :

–            Ketidakjelasan penyampaian kebutuhan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan kepada pembuat sistem informasi. Sehingga menyebabkan teknologi sistem informasi yang telah dibuat tidak sesuai dan tidak kompetensi dengan keunggulan perusahaan.

–            Kebanyakan perusahaan berpikir bahwa pembuatan sistem informasi adalah tugas dan kewajiban pihak teknologi informasi. Sehingga bila terjadi ketidaksesuaian sistem informasi yang ada dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan, maka hal tersebut merupakan kesalahan dan tanggung jawab pihak teknologi informasi. Seharusnya pihak perusahaan sebagai pihak pengguna juga memiliki tugas, kewajiban dan tanggung jawab dalam pengembangan dan implementasi sistem informasi.

–            Pihak perusahaan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan teknologi sistem informasi yang dibuat. Misalnya Perusahaan yang masih menerapkan sistem tradisional, kemampuan pengguna yang masih belum terampil.

–            Kurangnya dukungan dan partisipasi atasan baik manajemen maupun pimpinan dalam ikutserta merancang teknologi sistem informasi yang akan dibuat.

–            Pengembangan teknologi sistem informasi yang semakin canggih masih belum diimbangi dengan dukungan nyata dari masyarakat untuk mengubah diri menjadi masyarakat yang berbasis IPTEK.

Sedangkan menurut Rosemary Cafasaro kegagalan sistem informasi adalah kurangnya dukungan dari manaejemen eksekutif dalam artian, pada tahap evaluasi dan pengambilan keputusan berdasarkan sistem informasi. Manajemen ekskutif dapat dikatakan kurang mempercayai informasi-informasi dan tidak mengawasi jalannya sistem tersebut. Sistem informasi yang dikembangkan adalah bertujuan untuk mempermudah penggunaan akhir (end user). Akan tetapi sistem informasi yang dikembangkan akan mengalami kegagalan bilamana pemakai akhir tidak memberikan balasan dari apa yang telah digunakan dan dilaksanakan. Karena hal ini dibutuhkan untuk mengevaluasi dari sistem informasi yang digunakan.

Daftar Pustaka :

http://library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-mutia.pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://apr1l-si.comuf.com/SI.pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).\

FILE BENTUK PDF : Jelaskan apa yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pengembangan maupun penerapan sistem informasi di suatu organisasi

Dec
24
2010

Bagaimana Suatu Perusahaan Menggunakan Sistem Informasi Untuk Menunjang Strategisnya

Saat ini setiap perusahaan modern akan memiliki sebuah strategis untuk masuk pasar, meningkatkan margin, dan menjadi leader dalam pasar. Maka dari itu, perusahaan perlu membuat sebuah sistem informasi yang mendukung kinerja perusahaan sesuai dengan strategi tersebut. Peran sistem informasi dalam bisnis yang dijalankan oleh perusahaan diharapkan dapat memberikan dukungan yang efektif atas strategi yang telah direncanakan agar dapat memperoleh keuntungan dan keunggulan kompetitif, mengurangi kelemahan kompetitif, serta memenuhi tujuan strategis perusahaan. Penerapan sistem informasi tidak lepas dari keterlibatan dari teknologi informasi. Karena teknologi informasi merupakan salah satu pendukung tercapainya sistem informasi yang dibuat oleh perusahaan. Misalnya banyak perusahaan yang memanfaatkan internet dalam kelancaran bisnisnya dan saat ini banyak perusahaan yang membangun e-business dan e-commerce untuk mendukung bisnisya.

Terdapat empat peranan penting sistem informasi dalam perusahaan, yaitu berpartisipasi dalam pelaksanaan tugas-tugas, mengaitkan perencanaam pengerjaan, dan pengendalian dalam sebuah subsistem, mengkoordinasikan subsistem-subsistem, dan mengintegrasikan subsistem-subsistem. Bagi sebuah perushaan, memandang sistem informasi sebagai suatu pendukung untuk mencapai tujuan perusahaan baik secara strategis maupun pencapaian visi dan misi perusahaan secara keseluruhan.

Hubungan sistem informasi, teknologi informasi, dan strategi perusahaan dapat dilihat dari gambar di bawah ini :

Berdasarkan gambar diatas dapat dijabarkan bahwa sistem informasi, teknologi informasi, dan strategi perusahaan saling terkait dengan struktur organisasi yang terbentuk, budaya yang ada di organisasi perusahaan, dan proses bisnis yang dijalankan oleh perusahaan. Sehingga apabila perusahaan ingin membuat strategis perlu dilihat terlebih dahulu bisnis yang dijalankan, organisasi yang terbentuk dalam perusahaan dan budaya yang diterapkan, kemudian baru membentuk sistem informasi yang didukung dengan teknologi informasi yang sesuai dengan organisasi dan budaya yang ada.

Perusahaan yang bergerak didalam bidang bisnis apapun apabila ingin bertahan dan berhasil dalam jangka panjang maka perusahaan tersebut harus berhasil mengembangkan strategi yang telah direncanakan yang didukung dengan sistem informasi dan teknologi informasi dalam menghadapi lima tekanan kompetitif yang membentuk struktur persaingan dalam pasar (industri). Dalam model klasik Michael Porter tentang bisnis apapun yang ingin bertahan hidup dan berhasil harus mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai strategi untuk secara efektif mengatasi tekanan yang ada. Tekanan tersebut diantaranya adalah :

1. Persaingan dari para pesaing dalam industrinya.

2.  Ancaman pemain baru dalam industri dan pasarnya.

3. Ancaman yang dihadapi karena adanya produk pengganti yang dapat mengambil pangsa pasar.

4. Daya tawar pelanggan.

5. Daya tawar pemasok.

Daftar Pustaka :

http://arviant.web.ugm.ac.id/content/Sistem%20Informasi%20(Information%20System).pdf. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://agreng.info/article/keunggulan-kompetitif-sistem-informasi-rantai-nilai-michael-porter. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

http://sinformasi.files.wordpress.com/2010/01/bab3-sistem-informasi-strategis6.doc. (Diakses Pada Tanggal 20 Desember 2010).

FILE BENTUK PDF :  Bagaimana suatu perusahaan menggunakan sistem informasi untuk menunjang strategisnya

Dec
3
2010

PERBANDINGAN IMPLEMENTASI INSOURCING, CO-SOURCING, dan OUTSOURCING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Persaingan dunia bisnis saat ini semakin ketat, akibat dari semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan sistem informasi. Sehingga  menuntut setiap perusahaan untuk meningkatkan kinerja usahanya melalui pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien. Salah satu caranya adalah dengan membangun teknologi informasi dan sistem informasi menjadi teknologi sistem informasi yang medukung bisnis organisasi, proses bisnis, struktur dan budaya organisasi dalam meningkatkan nilai bisnis dari organisasi khususnya dalam lingkungan bisnis yang dinamis.

Pengelolaan organisasi yang semakin efektif, efisien, dan responsive dalam teknologi sistem informasi, maka dapat memberi kemudahan bagi perusahaan untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dalam lingkungan bisnisnya, mulai dari proses produksi dan operasi, finance, accounting, hingga pemasaran. Dalam mengoptimalkan pengambangan dan implementasi teknologi sistem informasi, setiap perusahaan dapat melakukan melalui 3 (tiga) metode, yaitu insourcing, cosoursing, dan outsourcing.

Setiap perusahaan harus peka dan berhati-hati dalam menentukan pilihan dari ketiga metode tersebut untuk meningkatkan implementasi dari teknologi sistem informasi yang telah dibangun. Karena masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga perusahaan harus memutuskan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan bisnisnya. Kesalahan dalam menentukan pilihan akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan bisnis perusahaan.

1.2. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

  1. Mengetahui peran sistem informasi dalam suatu organisasi.
  2. Mengetahui peran teknologi informasi dalam suatu organisasi.
  3. Membandingkan kelebihan dan kelemahan dari ketiga model dalam pengembangan dan implementasi teknologi sistem informasi, yaitu insourcing, cosoursing, dan outsourcing.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sistem Informasi

Menurut Alter dalam Effendy (1989:11), sistem informasi adalah kombinasi anatar prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi.

Sistem informasi memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan perusahaan karena:

  1. Sebagai Sistem Penunjang Operasi

Sebagai sistem penunjang operasi (operations support system), sistem informasi dapat:

  • Memproses transaksi-transaksi bisnis secara efisien
  • Mengendalikan proses-proses industri
  • Mendukung komunikasi dan kolaborasi
  • Memperbaharui basis data perusahaan

Operations support system dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

– Transaction Processing Systems (TPS)

TPS berfungsi untuk mencatat dan memproses transaksi-transaksi bisnis

– Process Control Systems (PCS)

PCS berfungsi untuk mengawasi dan mengendalikan proses-proses fisik.

– Enterprise Collaboration Systems (ECS)

ECS berfungsi untuk mendukung komunikasi tim dan kelompok kerja.

2. Sebagai Sistem Penunjang Manajemen

Sebagai sistem penunjang manajemen (management support system), sistem informasi dapat menyediakan informasi dan mendukung para manajer dalam membuat keputusan secara efektif.

Management support system dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

– Management Information Systems (MIS)

MIS dapat membantu dalam melaporkan dan menunjukkan kinerja kegiatan bisnis tertentu.

– Decision Support Systems (DSS)

DSS dapat menyediakan dukungan ad hoc dan interaktif.

– Executive Information Systems (EIS)

EIS dapat menyediakan informasi penting untuk para eksekutif dan manajer suatu perusahaan..

Kualitas informasi (quality of information) sangat dipengaruhi atau ditentukan tiga hal, yaitu :

  1. Relevancy (Relevan), tiap informasi harus memberikan manfaat bagi pemakainya.
  2. Accuracy (Akurat), informasi yang akurat berarti informasi harus terlepas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan, dan harus jelas mencerminkan maksudnya.
  3. Timeliness (Tepat waktu), informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan tidak boleh terlambat (usang).

Sedangkan peranan dan fungsi secara umum dari sistem informasi adalah :

  1. Mendukung Operasi Bisnis. Mulai dari akuntansi sampai dengan penelusuran pesanan pelanggan, sistim informasi menyediakan dukungan bagi manajemen dalam operasi/kegiatan bisnis sehari-hari. Ketika tanggapan/respon yang cepat menjadi penting, maka kemampuan Sistim Informasi untuk dapat mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi keberbagai fungsi bisnis menjadi kritis/penting .
  2. Mendukung Pengambilan Keputusan Managerial. Sistim informasi dapat mengkombinasikan informasi untuk membantu manager menjalankan menjalankan bisnis dengan lebih baik, informasi yang sama dapat membantu para manajer mengidentifikasikan kecenderungan dan untuk mengevaluasi hasil dari keputusan sebelumnya. Sistem Informasi akan membantu para manajer membuat keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih bermakna.
  3. Mendukung Keunggulan Strategis. Sistim informasi yang dirancang untuk membantu pencapaian sasaran strategis perusahaan dapat men-ciptakan keunggulan bersaing di pasar

2.2. Teknologi Informasi

Menurut beberapa ahli mendefinisikan teknologi informasi sebagai berikut (dikutip dari http://www.linkpdf.com) :

–          Teknologi informasi merupakan sebuah bentuk umum yang menggambarkan setiap teknologi yang membantu menghasilkan, memanipulasi, menyimpan, mengkomunikasikan, dan menyampaikan informasi (Williams, Sawyer, 2005).

–          Teknologi informasi merupakan kombinasi teknologi komputer(perangkat keras dan perangkat lunak) untuk mengolah dan menyimpan informasi dengan teknologi komunikasi untuk melakukan transmisi informasi (Martin, Brown, DeHayes, Hoffer, Perkins, 2005).

Teknologi informasi terdiri dari 3 (tiga) komponen utama yang terdiri dari :

  1. Perangkat keras (hardware)

Merupakan perangkat fisik yang membangun sebuah teknologi informasi. Contohnya : monitor, keyboard, mouse, printer, harddisk, memori, mikroprosesor, CD-ROM, kabel jaringan, antena telekomunikasi, CPU, dan peralatan I/O.

2. Perangkat lunak (software)

Merupakan program yang dibuat untuk keprluan khusus yang tersusun atas program yang menentukan apa yang harus dilakukan oleh komputer. Perangkat lunak dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Perangkat lunak sistem, merupakan perangkat lunak yang dibuat khusus untuk dapat mengontrol semua perangkat keras, sehingga semua perangkat keras teknologi informasi dapat bekerja dengan kompak sebagai sebuah sistem yang utuh. Misalnya : Sistem Operasi Window, Linux, Unix, OS/2, dan FreeBSD.
  2. Perangkat lunak bahasa pemrograman, merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membuat program aplikasi maupun perangkat lunak sistem. Misalnya : Visual Basic, Delphi, Turbo C, Fortran, Cobol, Turbo Assembler, dan Java.
  3. Perangkat lunak aplikasi, merupakan program jadi siap pakai yang dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya untuk keperluan multimedia : ada perangkat lunak Jet Audio, Windows Media Player, Winamp, Real Player. Untuk keperluan aplikasi perkantoran : ada Microsoft Office dan Open Office yang terdiri atas beberapa program untuk berbagai keperluan seperti pengolahan kata, angka, data dan presentas

3. Manusia ( brainware )

Merupakan personel-personel yang terlibat langsung dalam pemakaian komputer, seperti Sistem Analis, Web Master, Web Disigner, Animator, Programmer, Operator, User dan lain-lain. Terdapat berbagai peran yang dapat dilakukan manusia dalam bagian sistem komputer, antara lain :

  1. Analis sistem, berperan melakukan analisis terhadap masalah yang dihadapi, serta merancang solusi pemecahannya dalam bentuk program komputer.
  2. Programmer, berperan menerjemahkan rancangan yang dibuat analis kedalam bahasa pemrograman sehingga solusi dapat dijalankan komputer.
  3. Operator berfungsi menjalankan komputer berdasarkan instruksi yang diberikan.
  4. Teknisi, bertugas merakit atau memelihara perangkat keras komputer, dan lain-lain.

Peran teknologi informasi bagi

Sebuah perusahaan dapat kita lihat dengan menggunakan kategori yang diperkenalkan oleh  G.R.  Terry, ada  5  peranan  mendasar  teknologi  informasi  di  sebuah  perusahaan, yaitu:

  1. Fungsi  Operasional akan  membuat  struktur  organisasi  menjadi  lebih ramping telah diambil alih fungsinya oleh teknologi informasi. Karena sifat penggunaannya yang menyebar di seluruh fungsi organisasi, unit terkait dengan manajemen teknologi informasi akan menjalankan fungsinya sebagai supporting agency dimana teknologi informasi dianggap sebagai sebuah firm infrastructure.
  2. Fungsi  Monitoring and  Control mengandung  arti  bahwa  keberadaan teknologi informasi akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas di level manajerial   embedded di   dalam   setiap   fungsi   manajer, sehingga struktur organisasi unit terkait dengannya harus dapat memiliki span of control atau peer relationship yang memungkinkan   terjadinya interaksi efektif dengan   para manajer di perusahaan terkait.
  3. Fungsi Planning and Decision mengangkat teknologi informasi ke tataran peran yang  lebih  strategis  lagi  karena  keberadaannya  sebagai  enabler  dari  rencana bisnis  perusahaan  dan  merupakan  sebuah  knowledge  generator  bagi  para pimpinan perusahaan yang dihadapkan pada realitas untuk mengambil sejumlah keputusan penting sehari-harinya. Tidak jarang perusahaan yang pada akhirnya memilih  menempatkan  unit  teknologi  informasi  sebagai  bagian  dari  fungsi perencanaan dan/atau pengembangan korporat karena fungsi strategis tersebut di atas.
  4. Fungsi Communication secara prinsip termasuk ke dalam firm  infrastructure dalam era organisasi modern dimana teknologi   informasi   ditempatkan posisinya sebagai sarana atau media individu perusahaan dalam berkomunikasi, berkolaborasi, berkooperasi, dan berinteraksi.
  5. Fungsi Interorganisational merupakan sebuah peranan yang cukup unik karena dipicu  oleh  semangat  globalisasi  yang  memaksa  perusahaan  untuk melakukan kolaborasi  atau  menjalin  kemitraan  dengan  sejumlah  perusahaan  lain.

2.3. Insourcing

Insourcing adalah metode pengembangan sistem informasi yang hanya melibatkan sumber daya di dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan. Sistem informasi mengenai operasi sistem pada pihak manajemen untuk memberikan pengarahan dan pemeliharaan sistem dalam hal ini pengendalian ketika sistem bertukar input dan output dengan lingkungannya.

  • Kelebihan :
  1. Umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan.
  2. Biaya pengembangannya relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  3. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  4. Sistem informasi yang dibangun sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.
  5. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  6. Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  8. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  • Kelemahan :
  1. Keterbatasan jumlah dan tingkat kemampuan SDM yang menguasai teknologi informasi.
  2. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  3. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).
  4. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmersehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  5. Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  6. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan distem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan (ditanggung sendiri).

2.4. Cosourcing

Cosourcing adalah jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas dimana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing. Contohnya adalah dengan memperbantukan tenaga ahli pada perusahaan pemberi jasa untuk saling mendukung kegiatan masing-masing perusahaan.

  • Kelebihan :
  1. Biaya pengembangan akan lebih murah karena biaya ditanggung bersama perusahaan patner (sharing cost)
  2. Sharing knowledge antar organisasi
  3. Perencanaan pengembangan lebih terpadu dan holistik
  • Kelemahan :
  1. Rahasia perusahaan diketahui patner
  2. Keamanan system
  3. Perbedaan kepentingan organisasi
  4. Sulit melakukan modifikasi
  5. Program bersifat general
  6. Harus menyesuaikan dengan hardware dimasing-masing organisasi
  7. Pada perusahaan sejenis (Bank, Manufaktur dsb)

2.5. Outsourcing

Menurut definisi Maurice Greaver, Outsourcing dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama.

  • Kelebihan :
  1. Perusahaan dapat mengonsentrasikan diri pada bisnis yang ditangani.Masalah mengenai hardware, sofware, dan maintenance sistem merupakan tanggung jawab pihak vendor.
  2. Lebih praktis serta waktu pengembangan sistem informasi relatif lebih cepat, efektif, dan efisisen karena dikerjakan oleh orang yang profesional di bidangnya.
  3. Penghematan waktu proses dapat diperoleh karena beberapa outsourcerdapat dipilih untuk bekerja bersama-sama menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
  4. Dapat membeli partner/provider sesuai anggaran dan kebutuhan. Memudahkan akses pada pasar global jika menggunakan vendor yang mempunyai reputasi baik.
  5. Resiko ditanggung oleh pihak ketiga. Resiko kegagalan yang tinggi dan biaya teknologi yang semakin meningkat, akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyerahkan pengembangan sistem informasi kepadaoutsourcer agar tidak mengeluarkan investasi tambahan.
  6. Biaya pengembangan sistem informasi dapat disesuaikan dengan anggaran dan kebutuhan perusahaan. Mahal atau murahnya biaya pengembangan sistem informasi  tergantung jenis program yang dibeli.
  7. Mengurangi resiko penghamburan investasi jika penggunaan sumber daya sistem informasi belum optimal. Jika hal ini terjadi maka perusahaan hanya menggunakan sumber daya sistem yang optimal pada saat-saat tertentu saja, sehingga sumber daya sistem informasi menjadi tidak dimanfaatkan pada waktu yang lainnya.
  8. Dapat digunakan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tak perlu ada aset untuk teknologi informasi.
  9. Memfasilitasi downsizing sehingga perusahaan tak perlu memikirkan pengurangan pegawai.
  • Kelemahan :
  1. Terdapat kekhawatiran tentang keamanan sistem informasi karena adanya peluang penyalahgunaan sistem informasi oleh vendor, misalnya pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan.
  2. Ada peluang sistem informasi yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan dikarenakan vendor tidak memahami kebutuhan sistem dalam perusahaan tersebut.
  3. Transfer knowledge terbatas karena pengembangan sistem informasi sepenuhnya dilakukan oleh vendor.
  4. Relatif sulit melakukan perbaikan dan pengembangan sistem informasi karena pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh vendor, sedangkan perusahaan atau organisasi umumnya hanya terlibat sampai rancangan kebutuhan sistem.
  5. Dapat terjadi ketergantungan kepada konsultan.
  6. Manajemen perusahaan membutuhkan proses pembelajaran yang cukup lama dan perusahaan harus membayar lisensi program yang dibeli sehingga ada konsekuensi biaya tambahan yang dibayarkan.
  7. Resiko tidak kembalinya investasi yang telah dikeluarkan apabila terjadi ketidakcocokan sistem informasi yang dikembangkan.
  8. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan. Mungkin saja pihakoutsourcer tidak fokus dalam memberikan layanan karena pada saat yang bersamaan harus mengembangkan sistem informasi klien lainnya.
  9. Perusahaan akan kehilangan kendali terhadap aplikasi yang di-outsource-kan. Jika aplikasinya adalah aplikasi kritikal yang harus segera ditangani jika terjadi gangguan, perusahaan akan menanggung resiko keterlambatan penanganan jika aplikasi ini di-outsource-kan karena kendali ada padaoutsourcer yang harus dihubungi terlebih dahulu.

10.  Jika kekuatan menawar ada di outsourcer, perusahaan akan kehilangan banyak kendali dalam memutuskan sesuatu apalagi jika terjadi konflik diantaranya.

DAFTAR  PUSTAKA

Effendy, Onong Uchjana. 1989. Sistem Informasi Manajemen. Bandung : Mandar maju.

http://anezthiencute8.blogspot.com/2010/11/pengembangan-simd-pada-organisasi.html?showComment=1291346645780. (diakses pada tanggal 3 Desember 2010).

http://iniputri.blog.uns.ac.id/files/2010/05/paper-manajemen-dan-ti.pdf. (diakses pada tanggal 3 Desember 2010).

http://muhamadyasier.multiply.com/reviews/item/5. (diakses pada tanggal 3 Desember 2010).

http://upi0700004.blog.upi.edu/2009/06/19/peranan-sistem-informasi-dalam-pengambilan-keputusan-untuk-promosi-di-perusahaan-nabisco-2/. (diakses pada tanggal 3 Desember 2010).

http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://p3m.amikom.ac.id/p3m/dasi/2010/MANAJERIALSeptember2008/3%20-%20%20STMIK%20AMIKOM%20YOGYAKARTA%20-%20TEKNOLOGI%20INFORMASI%20MENGUBAH.pdf. (diakses pada tanggal 3 Desember 2010).

FILE BENTUK PDF Yolivia Astrianiez Seesar (P056091731.44)

May
26
2010

Hello world!

Welcome to Blogstudent.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Skip to toolbar